DIY Tidak Jadi Kurtilas Kembali ke Kurikulum 2006

By
Advertisement
Sekolah-sekolah di DIY akhirnya mendapatkan keputusan akhir dari gonjang-ganjing pelaksanaan Kurikulum 2013, yaitu kembali ke kurikulum 2006. Hanya sekolah yang telah melaksanakan Kurikulum 2013 selama tiga semester yang masih tetap akan menggunakan Kurikulum 2013. Surat edaran telah diterima sekolah hari ini (Kamis 22 Januari 2014) untuk kembali menggunakan Kurikulum 2006 KTSP.

Semester dua tahun pelajaran 2014/2015 sudah berjalan hampir satu bulan, dan pelaksanaan Kurikulum 2013 di banyak sekolah sudah berjalan meskipun tertatih karena banyak buku pelajaran semester dua yang belum diterima sekolah. Apa reaksi sekolah? Tentu beragam, banyak guru yang bersuka cita dengan kembali ke Kurikulum 2006, karena Kurtilas (Kurikulum 2013) banyak kendala dalam pelaksanaannya, mulai dari kesiapan guru, buku, perubahan materi, metode pembelajaran sampai dengan cara penilaian.

Namun ada juga yang merasa masgul dengan keputusan ini, kita bisa runut kembali proses Kurikulum 2013 dilahirkan kemudian diimplementasikan. Setelah pada tahun pelajaran 2013-2014 diimplementasikan secara terbatas di sekolah-sekolah tertentu, dan Kurtilas mengalami beberapa kali revisi berdasar evaluasi pelaksanaan kurikulum di sekolah-sekolah terpilih tersebut. Tahap ini kemudian dilanjutkan dengan pelatihan Kurikulum 2013 kepada guru dan kepala sekolah secara bertahap untuk sekolah yang belum melaksanakan Kurtilas ini. Dan kemudian Mendikbud Muhammad Nuh pada waktu itu memutuskan memberlakukan secara serentak di seluruh Indonesia pelaksanaan Kurikulum 2013 mulai tahun pelajaran 2014-2015. Dengan gamang dan tidak yakin banyak guru yang akhirnya berusaha mengimplementasikan kurtilas ini dengan kemampuan seadanya, untungnya pada bulan-bulan itu dilaksanakan pelatihan lagi bagi guru-guru tentang implementasi kurikulum 2013.

Tahapan pelatihan, adaptasi dan trial and error sudah dilaksanakan di semester satu tahun pelajaran 2014-2015, kalaupun ada kekurangan ya wajar karena baru saja implementasi kurikulum baru, apalagi buku belum tersedia lengkap, dan siswa pun butuh adaptasi dengan pendekatan ilmiah yang menjadi metode utama dalam pembelajaran. Semua berproses dan kalau ada kendala lebih bersifat teknis sebenarnya. 

Namun akhirnya sebuah langkah menuju perubahan itu terganjal dan harus kembali dengan kurikulum lama. kalaulah ada kegamangan (kalau tidak bisa disebut kekecewaan) sangat bisa dimengerti. Semangat perubahan paradigma dan perubahan dalam implementasi pembelajaran dengan kurtilas ini yang dikobar-kobarkan pada awal semester satu 2014-2015 akhirnya dipadamkan. Langkah progresif terdegradasi oleh sebuah jeda yang regresif.

Namun begitu sebagai pelaku di lapangan, guru sudah terbiasa dengan perubahan kebijakan bahkan yang bersifat mendadak dan gonta-ganti, karena itu semoga langkah Mendikbud Anies Baswedan yang memerintahkan kembali ke Kurikulum 2006 ini bisa disikapi dengan arif dan bijaksana, Semoga dengan kembali ke Kurikulum 2006, sekolah dapat mempersiapkan segalanya lebih baik bagi implementasi Kurikulum 2013, dan pada saatnya nanti bisa melaksanakan Kurikulum 2013, kurikulumnya Generasi Emas Indonesia, dengan lebih sempurna. Amin,

Mari bersemangat Bapak/Ibu Guru!, segera laksanakan:
  1. Administrasi guru disesuaikan lagi, Prota, Promes, Silabus, RPP, Rancangan Penilaian juga kembali ke Kurikulum 2006 ya...
  2. Buku Pelajaran Kurikulum 2006 didistribusikan kembali ke siswa ya...
  3. Hunting jam mengajar bagi rekan guru yang terdampak perubahan sehingga jam mengajarnya kurang dari 24 jam...
  4. Jadwal mengajar juga disesuikan karena beberapa mapel jamnya berkurang...

Salam semangat!

0 comments:

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar, mohon tidak menyertakan link aktif, terimakasih.